Jumat, 07 Maret 2014

lee



Motuo County, China
Di antara dedaunan yang satu per satu mulai gugur menghiasi sajadah panjang kehidupan, biarlah semua nestapa dan duka runtuh bersama daun terakhir yang jatuh kala penghujung musim gugur tiba, membiarkannya jatuh bergelut abu lalu terinjak oleh kaki-kaki yang sengaja dipijakkan ke bumi, menjadikannya miniatur kehidupan yang hanya bergantung pada usia dan waktu. Terkadang berteriak penuh kuasa, lalu menangis kemiskinan dengan rintihan tanpa suara, dan terkadang menepuk-nepuk dada bangga lalu cemas dan berharap tanpa ada daya, semuanya terjadi begitu saja sealur dan sejalan dengan takdir Tuhan yang telah tertitahkan lewat setiap denyut nadi nafas kehidupan.
                Tuan yin begitulah lelaky paruh baya itu di panggil. Seorang lelaki  yang kurang dari cukup dalam harta untuk membiayai seorang anaknya, ia juga seorang lelaki parubaya yang dikenal sebagai tokoh masyarakat yang sangat berpegang teguh dan tidak bergeming seikitpun dalam memegang teguh agama islam.
                Namun kini ia tertunduk lesu di ruang tunggu pasien salah satu rumah sakit di motuo county china, dengan perasaan cemas dan harap. Menutupi wajah yang bimbang dengan tangan kiri sembari  menggendong seorang bayi kecil seraya bermunajat di antara dinginya malam, juga gemerisik guyuran hujan yang sedari tadi terus menerus Tuhan hujamkan ke bumi. Ia bermunajat demi kesembuhan puteri satu-satunya dengan doa yang tak bisa terjamah oleh rangkaian kata-kata abstrak
                Pada secarik nafas kehidupan, lelaki parobaya itu berdiri di tengah kebimbangan yang sangat. Mereka-reka kembali memori  nestapa yang tanpa henti lalu-lalang dalam kehidupannya. Tanpa henti ia panjatkan doa agar diberi ketabahan atas semua cobaan yang ia derita.
                Masih jelas terlintas dalam ingatan tuan yin seperti halnya putaran video yang setiap saat bisa ia putar. Ketika istrinya meninggal, kemudian i ikuti putrinya  yang di perkosa oleh beberapa lelaky, dan usai melahirkan beberapa bulan kemudian putrinya dinyatakan mengidap penyakit HIV, hingga tak jarang putri tunggalnya itu dirujuk ke puskesmas di desa, bahkan terkadang ke rumah sakit terkemuka di kota dengan modal  Jamkesmas. Yaa uang mana lagi yang akan ia bawa untuk kesembuhan anknya itu? Meski telah beberapa kali dirujuk ke rumah sakit, penyakit itu tetap saja kambuh menggerogoti jiwa putrinya yang kian layu. Hingga di siang itu, ketika kediaman tuan yin gaduh  sebab putrinya yang tiba-tiba mengerang kesakitan karna penyakit HIV yang dideritanya kambuh dengan kesakitan yang sangat.
 Jam berdetak cepat  secepat detak janttung kuan yin. Ia melagkah kesan kemari layaknya setrika yang sedang menyeterika pakaian. Lelaki umur 50.an itu tidak memikirkan apa-apa selain anaknya. Setelah lebih dua jam kuan yin menunggu. Dokter keluar perlahan dari ruang ICU dihiasi dengan mukaa sedih. “pertanda buruk”
                “dok gimana keadaan anak saya?’ kuan yin terlihat begitu cemas.
                “maaf”
                “kenapa dok?”menyela pembicaraan
                “putri anda tidak bisa di tolong,  daya tahn tubuhnya sangat lemah. penyakit itu menyerang daya tahan tubuhnya sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi tidak berdaya dalam melawan keadaanya sendiri”
                Air mata terus mengalir membasahi pipi Tuan yin. Ia tak menyangka putri satu-satunya bisa pergi secepat ini. Tuan yin hanya tersungkur di pojok rumah sakit sebelum akhirnya ia bangkit
 tuan yin hanya menatap nanar sorang bayi lelaki di depannya. Ia masih saja meneteskan air mata Dengan sedikit kekuatan yang ia punya.
“lee kaulah teman kakek satu-satunya. Kakek berjanji akan benar-benar menjagamu” ucapnya masih saja terisak

musim semi itu telah tiba, terlihat tubuh bayi mungil  masih berbalut selimut di atas tempat tidurnya. Yaa dia adalah lee. Satu-satunya keluarga yang di punya tuan yin saat ini. Dia menatap sayu anak yatim itu. sebelum air matanya meleleh
“kau akan tumbuh menjadi lelaky yang kuat lee, seperti namamu” ucapnya seraya mengusp kepala lee
Angin berhembus sepoi membelai dedaunan, burung-burung bernyanyi riang di antara ranting cabang pepohonan, seakan tanpa henti menucapkan tahmid, takbir dan tahlil pada sang hiang kehidupan. Sunrise baru saja pergi meninggalkan kenangan tak terlupakan lewat goresan jingga yang kini memudar berganti kehangatan mentari yang tanpa bosan menghangati alam raya ini.

Tukk..tukk..tukk..!!!
Terdengar beberapa suara langkah kaki memasuki  halaman rumahnya . di ikuti teriakan-teriakan cukup keras dari luar sana
“tuan yin..”  teriak seorang laki-laki
Brukkk..brukk..brukkk. tendangan kaki berulang-ulang terdengar dari pintu rumahnya.
“tuan yinn keluar kau” suara itu lagi  terdngar kembali
Tapi kali ini ia menggedor-gedor  jendela yang seikit kusam itu. dengan perasaan tak menentu. Tuan yin segera membuka pintu rumahnya.
                Tepat di teras rumahnya, tuan yin menatap lekat lekat para tetangganya yang berdiri i depan rumahnya dengan pancaran emosi yang meluap-luap menatap laki-laki tua iitu
                “ada apa ini?” tuan yin menatap satu demi satu wajah mereka.
                ”cepat tinggalkan rumah ini” teriak fang. Lelaki yang lebih muda darinya
                “tenang-tenang in ada apa?” tuan yin semakin bingung
                “hey putrimu kan terekena penyakit HIV jadi cucumu itu sudah pasti terjangkit penyakit AIDS, dan kami tidak mau anak-anak kami tertular oleh penyakit itu, sekarang kau harus pergi tingglkan desa ini”
                “tapi kami harus tinggal dimana?”
                “ahh ittu urusanmu” selanya seraya menarik paksa lengan lelaki tua itu. kemudan seorang pemuda yang lain masuk kedalam rumahnya dan membawa lee keluar. Di tangan kanany terdapat yas besar milik tuan yin
                “bawa pergi bayi menjijikan ini” ucapnya mnyerahkan lee ke tuan yin.
                Tanpa banyak kata ia lagsung menggendong bayi kecil dan meneteng tas itu. ia berjalan tanpa alas kaki dan terbang menyusuri ladang jagung, teh, dan padi yang ulai tunduk menguning bersama angin teduh sore itu.  Wajah seih penuh derita terpancar jelas dari setiap guratan kulit yang semakin menua dan keriput. Senyumnya sedikit mengembang di setiap langkahnya yang mantap, sedikit miring ke kanan agak berat tubuh rentanya menopang bayi mungil di lengan kirinya. Sementara tangan kanan memegang tas besarnya. kemudian hinggap di ranting pohon beringin yang amat ridang yang tampak tak di tumbuhi benalu sedikitpun. di bawahnya terdapat aliran air yang mengalir jernih menuju lautan, di telinganya terngiang nyanyian jangkrik sore  ikut menyemarakan hatinya. Kemejanya menarik tuan yin untuk menjelejah lebih jauh, tuan yin kembali terbang menyusuri hutan lebih dalam dan sampailah di sebuah rumah yang asing menurutny. Ia menyusuri rumah itu untuk sekedar mencari tumpangan tidur semalam.
                Brakk...
Terdengar sesuatu jatuh dari dalaam rumah, tuan yin langsung membuka pintu dan ternyata hanya seekor kucing dan tikus-tikus kecil yang berkeliaran di dalam rumah. Rumah ini seperti kapal pecah yang seperti menghantam karang besar  disana-sini barang-barang berserakan, patah-mematah, bahkan hancur dimakan rayap. Tuan yin menelanjangi seluruh bilik rumah ini, kalau-kalau ada penghuni yang tinggal disini ia bisa menumpang istirahat semalam. Tidak ada seorangpun yang ia temui di situ
 tuan yin berdiam sebentar di sebuah rumah tak berpenghuni, rumah ini sangat pengap dan hanya tedapat satu ruangan di dalamnya, di sudut ruangan tedapat barang-barang tua yang telah terbungkus debu juga sisa-sisa piring bekas makan dengan bau sisa makanan yang menyebar di seluruh ruangan dan membuat ruangan ini semakin pengap.  kemudian tua yin duduk di pangkuan kursi  yang terbuat dari rotan muda. Ia tertunduk lesu merenungi sketsa tuhan yang di  takdirkan untuknya, seperti halnya hujan yang sekarang menghiasi angkasa. Sepintas mata kian terpejam dan menatap tipis, seakan berusaha me-rekah ulang masa indah yang telah lama menjadi ingatan semu dalam batin, dan meraga dalam, sampai ke ufuk jiwa di seberang taman ruh. Peerlahan lengan renta itu mendekap erat tubuh mungil lee.
Esokny saat Matahari ganas mulai melotot ke arah bumi, tak berkedip sedikitpun kecuali terhalang awan yang berbondong-bndong berlarian sejalan dengan arah angin. Kini ia duduk di antara beberapa pohon di hutan itu. beberapa tumpukan kayu bakar  dan ubi sudah terkumpul di sebelahnya. namun kaki dan tangannya tak cukup kuat menopang kayu-kayu itu. maka ia putuskan untuk memulihkan tenaganya sejenak
tuan yin diam terpungkur, matanya nanar menatap kabut. Ia menyadari umurnya bagaiman nasib lee jka tuan yin sudah tiada. Tubuh rentanya  semakin hari semakin lemah saja. Terkadang ketakutan-ketakutan itu terlintas begitu saja dalam benakanya . Takut yang tak dapat dia bagi dengan yang lain. Beberapa kali dalam masa tuanya ada masa dimana dia harus berkelit terhadap bayangan hitam yang akan menerkam dan mencabik tubuh rentanya  yang ringkih. Dan dia selalu tetap bertahan walau terkadang dalam tangis dia meminta Tuhan-nya agar menjaga lee setiap waktunya.
                orang tua renta seumuran tuan yin  biasanya menghabiskan masa hidupnya bersama anaknya. Menanti ajal sambil terus beristighfar di atas kursi reot . mengingat dan memohon ampunan TUHAN atas dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat semasa hidupnya.
jauh di dalam lubuk hati tuan yin ada dendam yang tak dapat dia hapus dari memorinya. Dia telah mengadu pada Tuhan-nya dalam doa-doa panjangnya. Bahkan dia bertanya dengan marah “Tuhanku, apa salah ini, aku pasti akan menuntutnya dalam persidangan-Mu nanti”, kadang ada rasa ingin memaafkan di hatinya dan lain kali dia membatalkannya.
‘”ekhemmm”
Suara batuk kecil, namapak membelah dinding hutan bertembok pepohonan. Terik sang surya mulai membakar tubuh tuan yin. Ia segera bankit dan menopang kayu-kayu bakar itu di bahunya.  Ia mempercepat langakah kakinya yang mulai berat. Sudah terlalu lama ia meninggalkan lee sendiri.



2012

              Cahaya terang itu berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya.
“Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan merdu, layaknya seorang rocker yang sedang menunjukkan aksi hebohnya bernyanyi di atas panggung megah.
                Satu tahunsudah lamanya aku berada di tempat yang sangat sempit ini, gelap engan di keilingi suatu benda yang jelas tidak aku ketahui, namun dengan sabarnya sebuah tangan dan suara suara itu mengenalkanku pelan0pelan pada tiap apa yang tidak aku ketahui. Yaa dia selalu menyebut dirinya “kakek”
                Saat ini hanya seseorang  itu yang selalu melindungiku saat musim dingin tiba, mengendongku saat tangisku terdengar menyeruak
                “lee bangun kau nak” ucapnya teengar sangat lembut di telingaku. Aku sedikitpun tak menhiraukannya akku masih saja menangis. Dan aku baru diam saat tubuhku terasa di angkat

  
dua tahun kemudian tepat di saat umurku menginjak 3thun aku sedikit mengerti. Lee itulah namaku. Dan laki-laki yang selalu bersamaku itulah kakeku. Kakek selalu menceritakan sesuatu tentang kenapa kami harus disini dan itu membuatku berfikir keras karna aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia katakan. Fikiranku hanya bagaimana aku menghabiskan waktuku seceria mungkin.
Setiap pagi usai akudimandikan di sumur tua kakek selalu mengajakku pergi mencari bahan maakanan. Aku hanya diam dan memeluknya erat  saat aku merasa tubuhku condong kekanan condong kekiri.  dia menggendongku di punggungnya dengan langkah yang penuh beban. Sesampainya di tempat kakek selalu meletaakaknku di bawah pohon pisang sebelum akhirnya ia meninggalkanku sendirian.aku hanya diam melihat kakek yang tak jauh daar pandaanganku sibuk menarik pohon ketela dengan sisa tenaganya. Tidak berubah seiap hari aku selalu menangis saat tenggoranku terasa kering. Dengan langkah cepat kakek datang menghampirku dengan segelas air yang diambilnya dari sungai dekat hutan ini. Karna memang kakek tak pernah membawakanku minuman dari rumah.
Musim semi datang kembali, aku hanya bisa diam dan menangis melihat tubuh renta kakeku tidur tak berdaya di atas ranjang itu. sesekali kakek memanggilku untuk mengambilkan minum. Aku mengangguk menurut kemudian berjalan kebelakang. Trkadang aku merasa sulit mengambil air di dalam panci yang kakek letakan di atas kompor  kayu. Aku selalu menggunakan kursi kecil dari kayu untuk memanjat
Ekhmmm ekhmmm ekhmmm
Suara batuk kakek terdengar kencang
“lee..! lee !” terdengar kakek memanggilku dengan suara yang tak seperti biasanya
Aku segera berlari menuju kamar seraya memegang gelas dengan hati-hati menjaga air yang ku bawa agar tidak tumpah. Meski beberapa kali aku merasakan tanganku basah akibat  gemericik air yng ku bawa tergoncangan tangan. Aku sedikitpun tak mempedulikanya. Aku terus berlari. Sesampainya dikamar. Aku melihat kakek tertidur sangat pulas. Aku tersenyum lega seraya meletakan air ke samping meja kamar.
 aku berjalan keluar,bau khas tanah yang terkena hujan langsung menyapaku saat aku keluar dari dalam rumah. Tepat di depan pintu aku menyilakan kaki untuk duduk disitu. Hujan rintik-rintik kecil cukup membasahi tanah yang saat ini berwarna hitam hingga  membuat lingkaran-lingkaran kecil bekas tetes hujan itu tidak terlalu tampak.
Tetesan air kecilpun terus gemericik halus, Burung-burung pun mulai ribut di balik cabang-cabang pohon yang rindang di sana, mungkin mereka sedang sibuk memanggil satu dengan yang lain agar bersiap-siap untuk segera terlelap menjelang senja. bui-bui kicauannya menaungi batas pikiran memecah kelemahan batin yang lama ku pupuk di punggung hati ku ini.
“masih indah kupandangi langit dari sini, walaupun tanpa sosok orang tua yang memeluk tubuh mungilku ini. Terkadang aku berpikir gimana rasanya di peluk oleh ayah dan ibu? Pasti sangat menyenangkan. Hhh ayah dan ibu disana pasti akan bersedih melihatku yang berkaabung seperti ini. Ahh sudahlah kan masih ada kakek yang menyayangi dan mencintaiku lebih dari apapun”
Kelihatanya alunan kemuningan corak senja tinggal setitik saat ku pandang. Aku putuskan untuk berjalan masuk ke dalam kamar kakek. Kakek masih trlihat sangat pulas. Tapi aku tetap harus membangunkanya karna dari tadi siang kakek belum makan.
”kek” panggilku lirih tapi kakek sepertinya tidak mendengarku
“kakek” panggilku lagi seraya menggenggam tanganya. Tapi aku meraskan tangan itu dingin dan kaku. Kakek juga masih tak membuka matanya. Aku sedikit panik
“kekkk....bangun kekk” aku mulai mengoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Kakek ! kakek bangunnnn” aku terisak dan menyandarkan kepala di atas dadanya. “kakeekkkkkk” tangisku semakin pecah. Di ikuti suara petir yang menggelegar dari luar
“aku tak punya siapa siapa lagi kek jangan tinggalkan aku” ujarku tapi kakek sama sekali tak menjawab  bibir nya tertutup rapat dan pucat
Di luar hujan tak lagi terdengar. Aku bergegas keluar dan berlari menuju perkampungan. Aku harus minta bantuan untuk menguuburkan jasad kakek. Angin malam berhembus menusuk sukma, menggetarkan raga dan membuat suasana kian mencekam. Pepohonan yang bergoyang pun ikut menari terkena semilirnya angin yang dingin seolah-olah berkata bahwa aku ingin sekali dipeluk dengan kehangatan yang tulus.
Kolaborasi antara gelap, malam, petir, dingin, angin dan sunyi pun membuat suasana bumi semakin tak bergravitasi, dunia tak menyapa, jangkrik tak mengkerik, kelelawar tak keluar, bintang tak gemilang, dan burung hantu enggan menampakkan dirinya di pohon jambu. Nafasku terasa tersengal tapi Aku harus tetap berlari. Aku memilih jaln di sebeah barat rumahku,  jika lewat jalan itu aku bisa sampai lebih cepat namun resikonya lebih besar karena aku harus melewati jurang-jurang dengan lantai yang licin, terlebih pada saat itu hujan baru saja meyerbu desa kecil ini
Setengah jam aku berlari tidak terasa tinggal beberapa tanjakan lagi yang harus aku lalui. Aku memijakan kakiku lebiih kuat tapi brukkkk.... kakiku tersandung. Masyaallah..lututku berdarah. Perih, sakit aku ingin menangis tapi itu tak mungkin aku lakukan. Akhirnya aku berjalan pelan
Setibanya di perkampungan. iba-tiba terdengar suara rintihan dalam balutan doa dari sebuah rumah yang sederhana. Aku lagsung mengetuk pintu rumah itu
Tokkk...tokk ..tokk
Tidak ada jawaban. Tokk tokk aku mengetuk pintu itu lagi seraya Aku mengintip ddari sela-sela jendelanya
“Ya Allah… kuatkan hati hamba, semoga bisa melewati semua cobaan ini”
Suasana kamar itu begitu hening, ditambah redup lampu yang tak begitu terang. Membuat suasana semakin syahdu. Wanita itu segera mengusap pipinya yang basah oleh air mata, pelan-pelan dia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. dan akhirnya
Krakkkkkkk..pintu rumah terbuka.
“adik siapa?” tanya wanita itu kepadaku seraya menengok kesana kemari seperti mencari seseorang
“saya lee. tolong saya nyonya, kakek saya harus segera di makamkan” aku memelas
“masya.allah rumahmu dimana?”
Aku menunjuk arah utara yang saat itu adalah hutan.
                “di tengah hutan” tanyanya seraya menekuk lututnya bersipuh di depanku aku mengguk saja. “masyaallah kau terluka nak” ucapnya lagi ketika menatap lututku yang berdarah. “maari masuk dulu kita obati lukamu”
                “tapi kakek saya...”
                “kitaa obati dulu baru kita cari bantuan” selanya. Aku mengangguk menyetujui
                Hari mulai beranjak malam Pukul 22.00. kepalaku terasa semakin berat . kantuk semakin mengamuk. Aku terus mempercepat langkah kakiku badanku terlalu letih untuk perjalan sejauh ini. Tapi jasad kakek harus segera di makamkan.aku tereus melangkah  dengan orang-orang dari kampung itu lalu langkahku terhenti di sebuh rumah papan itu. pintunya masih tertutup rapat seperti awal aku meninggalkanya. Senyap. Tak ada suara kakek yang biasanya sibuk menyanyikan lagu buatku. Aku di temani bebrapa orang dan ibu tadi masuk ke dalama kamar. Kakek masih terlihat terbaring di atas tempat tidur. Diam bergeming. Ibu yang mengobati lukaku memegang pergelangaan tangan kakek. Lalu menentuh lehernya. “innalilahi wa innailahi roji’un” seru ibu tu.Tiba-tba keringat dingin keluar . wajahku muali pucat. Pandanganku kabur. Lalu kemudian aku tak ingat lagi...
               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar