6 juni 2012 hari dan tanggal itu
menjadi awal kepahitanku. Aku mengenal seorang lelaki tanpa sengaja lewat
poselku, dia adalah temanya temanku. Fauzam radit ardyansyah nama itulah yang
sampai saat ini masih aku ingat.
aku mengenalnya setelah aku putus
dengan refan kekasihku seminggu yang lalu. ini bukan pertama kalinya aku membicarakan perasaan
yang sama sekali tidak pernah ada. selalu saja aq menyentuh hidup mereka
dengan niat untuk menghancurkanya. selalu saja aku menatap matanya padahal
semua yang kulakukan adalah kebohongan. hal paling kejam yang ku lakukan
adalah membiarkan mereka mencintaiku sementara aku berniat untuk tidak
mendapatkanya. Itu juga yang saat ini aq lakukan pada azam. Aq tak begitu mengenalnya tapi dengan
mudahnya saat ia menyatakan persaanya aq mengatakan “iya”.
Sebenarnya aku masih paham dengan
isi hatiku bahwa sampai saat ini aku masih sangat mencintai refan dan aku tidak
punya perasaan apa-apa terhadap azam. Aku masih ingin sekali kembai denganya.
Tapi rasa kecewaku padanya membuatku ambil keputusan segila ini. Tiga hari
setelah aku menerima azam, refan kembali hadir mengutarakan segala perasaan yang tak pernah
ingin kehilanganku. Tanpa memikirkan azam aku menerimanya kembali.
Aku tau memang aku egois, tapi aku tidak
ada pilihan. Aku masih mencintai refan dan aku tidak bisa melepas Azam. Aku
juga sangat menyukai kedua sifat mereka. Refan adalah cowok yang selalu ada
waktu buatku, selalu mementingkan aku dalam keadaan apapun walau sering kali dia
sangat kasar terhadapku. Tapi aku tau sifatkasarnya hanya karna ia tidak ingin
kehilanganku meski itu sangat
keterlaluan..dan ia sudah berjanji akan menghilangkan sifat buruknya itu. Sementara
azam dia hampir mirip dengan kriteriaku tampan, pintar, baik, jago agamanya.
Hampir sempurna, tapi itu sama sekali tidak bisa membuat cintaku memihaknya
Kedua sifat mereka yang berbeda dan
menurutku unik yang mampu membuatku bertahan hingga satu tahun. Selama satu
tahun itu aku sama azam jarang ada kontak, waktuku kesita penuh dengan refan, jelas-jelas aku
tau bahwa refan masih sering kali membuatku marah, nangis, dan kecewa. Tapi aku
selalu datang ke azam dan dia juga yang selalu menghimburku. azam selalu saja memaklumi setiap alasanku
untuk menolak bertemu denganya, memaklumi setiap alasanku kenapa aku tidak pernah
menghubunginya. Dia selalu saja mencoba mengerti kedaanku. Aku heran kenapa dia
segitu baiknya sama aku?
Satu tahun berlalu semua berjalan
sangat lancar mereka tidak ada yang tahu kalau mereka sudah aku duain. Tapi
sepandai-pandainya menyimpan kebusukan pasti akan tercium juga. Tepat pada saat
ualang tahun azam bumerang itu ada. Mereka tahu tentang permainanku selama ini.
Mereka merasa tertipu dengan cinta rekayasaku. Awalnya aku tak pernah berfikir akan
momen ini saat aku duduk di antara mereka dan mereka memintaku untuk memilih
salah satu di antara mereka. Ini sulit ?? fikirku
Dan pada akhirnya ..
aku memilih refan. Entah kenapa
perasaanku pada azam yang semula tidak ada respect apa-apa kini merasa berat
untuk melepasnya, ANEH.
Aku mencoba menghahabiskan
hari-hariku seolah tidak pernah ada kejadian apa-apa. Tapi ternyata
tidak semudah itu.. saat ini aku hanya terdiam dan terpaku tidak pernahku tau
apa yang harus aku lakukan. Menjalin hubungan dengan revant ternyata tidak
sebaik yang aku fikirkan semua tidak menyelesaikan masalah. Ternyata memang
benar hatiku tidak dapat berdusta bahwa aku juga mencintai azam.
Beberapa
bulan berlalu aku mendengar kabar bahwa azam sudah tidak sendiri lagi. Hatiku
benar-benar kelu mendengar semua itu. tapi aku fikir mungkin semua sudah
saatnya harus aku lupakan. Aku mencoba move on atas semua ini, selang satu
bulan aku sudah tak ingat lagi tentangnya. Tapi aneh memang tiba tiba dia datang menemuiku tanpa
sepengetahuan revan, pertemuan itu dia bilang tidak bisa melupakanku..dan dia
memintaku untuk mennggalkan revan. Duhh
hatiku deg-degan ternyata hatiku masih dimilikinya. Tapi aku tidak bisa meninggalkan
revan begitu saja. Aku tak tega.
Hari ini aku duduk di beranda bukit
itu. menunggu senja menjemput menunggu azam yang aku harapkan bisa kembali
hadir. Tapi aku rasa ia mulai menjauhiku lagi. Aku bingung. Kenapa dia seperti
itu ? apa ini gara-gara aku tak bisa menerima tawaranya ? ntahlah
Tapi yang jelas Di bukit itu, di langit biru itu, semuanya
mengingatkan aku pada azam yang telah aku sakiti begitu saja. Tertawa kecilku
mengingatkanya mungkin tak seorangpun yang tau termasuk revan, bahwa aku masih
di bukit ini, menunggunya di tengah keramaian, meihat lurus kedepan, berharap
dia akan kembali dengan kapal besar nan megah, lalu datang dan mengatakan
padaku “aku masih sangat mencintaimu
aurel”
Aku
mengingat kembali masa lalu ku yang membuatku semakin merindukannya. Semua yang
terjadi saat masih SMA, sehingga sekarang kami telah tumbuh dewasa. Semuanya
terasa indah, kepolosannya, ketulusannya sangat ku sukai.
Sungguh aku sangat merindukan dan menginginkannya saat ini, berdiri di sampingku, tersenyum seolah-olah dunia ini hanya milik aku dan dia. Aku terhanyut dalam lamunanku sendiri.
Sungguh aku sangat merindukan dan menginginkannya saat ini, berdiri di sampingku, tersenyum seolah-olah dunia ini hanya milik aku dan dia. Aku terhanyut dalam lamunanku sendiri.
Dimana
hati dimana fikiran, dimana raga sudah linglung whateverlah refan mau berkata
apa. Tapi yang pasti perasaan tidak bisa dipaksa buat dihetikan bukan? Mungkin
ini karena omonganku juga sih, ya memang aku pernah bilang ke azam kalau nanti dia
pergi aku pasti mudah melupakannya dan cari penggantinya. Well udah resiko juga
sihh, karna memang berlaku.
Sampai kapan aku bakal gini terus, bakal bohongin refan
terus??hh ntahlah
Masih
aku ingat ucapan refan beberapa minggu yang lalu untuk memintaku bangkit dan
tak mengingatnya lagi. Tapi bukan aku tidak melupakanya hanya saja tidak mudah
bagiku ntuk menghapus semua ingatanku tentangnya.
. kabar terakhir yang aku dengar dia masih
sangat mencintaiku. Tapi aku bingung, kenapa cinta kami tidak bisa di pertemukan. Aku menangis , Dia tidak pernah tau
bagaimana rasanya menjadi aku yang sangat menyesal telah mengabaikannya .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar