Sabtu, 15 Maret 2014

dan kamu tak kan tau



6 juni 2012 hari dan tanggal itu menjadi awal kepahitanku. Aku mengenal seorang lelaki tanpa sengaja lewat poselku, dia adalah temanya temanku. Fauzam radit ardyansyah nama itulah yang sampai saat ini masih aku ingat.
aku mengenalnya setelah aku putus dengan refan kekasihku seminggu yang lalu.  ini bukan pertama kalinya aku membicarakan perasaan yang sama  sekali tidak pernah ada. selalu saja aq menyentuh hidup mereka dengan niat untuk menghancurkanya. selalu saja aku menatap matanya padahal semua yang kulakukan adalah kebohongan. hal paling kejam yang  ku lakukan adalah membiarkan mereka mencintaiku sementara aku berniat untuk tidak mendapatkanya.  Itu juga yang saat ini aq lakukan pada azam.  Aq tak begitu mengenalnya tapi dengan mudahnya saat ia menyatakan persaanya aq mengatakan “iya”.
Sebenarnya aku masih paham dengan isi hatiku bahwa sampai saat ini aku masih sangat mencintai refan dan aku tidak punya perasaan apa-apa terhadap azam. Aku masih ingin sekali kembai denganya. Tapi rasa kecewaku padanya membuatku ambil keputusan segila ini. Tiga hari setelah aku menerima azam, refan kembali hadir  mengutarakan segala perasaan yang tak pernah ingin kehilanganku. Tanpa memikirkan azam aku menerimanya kembali.
Aku tau memang aku egois, tapi aku tidak ada pilihan. Aku masih mencintai refan dan aku tidak bisa melepas Azam. Aku juga sangat menyukai kedua sifat mereka. Refan adalah cowok yang selalu ada waktu buatku, selalu mementingkan aku dalam keadaan apapun walau sering kali dia sangat kasar terhadapku. Tapi aku tau sifatkasarnya hanya karna ia tidak ingin kehilanganku meski  itu sangat keterlaluan..dan ia sudah berjanji akan menghilangkan sifat buruknya itu. Sementara azam dia hampir mirip dengan kriteriaku tampan, pintar, baik, jago agamanya. Hampir sempurna, tapi itu sama sekali tidak bisa membuat cintaku memihaknya
Kedua sifat mereka yang berbeda dan menurutku unik yang mampu membuatku bertahan hingga satu tahun. Selama satu tahun itu aku sama azam jarang ada kontak, waktuku  kesita penuh dengan refan, jelas-jelas aku tau bahwa refan masih sering kali membuatku marah, nangis, dan kecewa. Tapi aku selalu datang ke azam dan dia juga yang selalu menghimburku.  azam selalu saja memaklumi setiap alasanku untuk menolak bertemu denganya, memaklumi  setiap alasanku kenapa aku tidak pernah menghubunginya. Dia selalu saja mencoba mengerti kedaanku. Aku heran kenapa dia segitu baiknya sama aku?
Satu tahun berlalu semua berjalan sangat lancar mereka tidak ada yang tahu kalau mereka sudah aku duain. Tapi sepandai-pandainya menyimpan kebusukan pasti akan tercium juga. Tepat pada saat ualang tahun azam bumerang itu ada. Mereka tahu tentang permainanku selama ini. Mereka merasa tertipu dengan cinta rekayasaku. Awalnya aku tak pernah berfikir akan momen ini saat aku duduk di antara mereka dan mereka memintaku untuk memilih salah satu di antara mereka. Ini sulit ?? fikirku
Dan pada akhirnya ..
aku memilih refan. Entah kenapa perasaanku pada azam yang semula tidak ada respect apa-apa kini merasa berat untuk melepasnya, ANEH.
Aku mencoba menghahabiskan  hari-hariku seolah tidak pernah ada kejadian apa-apa. Tapi ternyata tidak semudah itu.. saat ini aku hanya terdiam dan terpaku tidak pernahku tau apa yang harus aku lakukan. Menjalin hubungan dengan revant ternyata tidak sebaik yang aku fikirkan semua tidak menyelesaikan masalah. Ternyata memang benar hatiku tidak dapat berdusta bahwa aku juga mencintai azam.
                Beberapa bulan berlalu aku mendengar kabar bahwa azam sudah tidak sendiri lagi. Hatiku benar-benar kelu mendengar semua itu. tapi aku fikir mungkin semua sudah saatnya harus aku lupakan. Aku mencoba move on atas semua ini, selang satu bulan aku sudah tak ingat lagi tentangnya. Tapi aneh memang  tiba tiba dia datang menemuiku tanpa sepengetahuan revan, pertemuan itu dia bilang tidak bisa melupakanku..dan dia memintaku untuk mennggalkan revan.  Duhh hatiku deg-degan ternyata hatiku masih dimilikinya. Tapi aku tidak bisa meninggalkan revan begitu saja. Aku tak tega.
Hari ini aku duduk di beranda bukit itu. menunggu senja menjemput menunggu azam yang aku harapkan bisa kembali hadir. Tapi aku rasa ia mulai menjauhiku lagi. Aku bingung. Kenapa dia seperti itu ? apa ini gara-gara aku tak bisa menerima tawaranya ? ntahlah
Tapi yang jelas Di bukit itu, di langit biru itu, semuanya mengingatkan aku pada azam yang telah aku sakiti begitu saja. Tertawa kecilku mengingatkanya mungkin tak seorangpun yang tau termasuk revan, bahwa aku masih di bukit ini, menunggunya di tengah keramaian, meihat lurus kedepan, berharap dia akan kembali dengan kapal besar nan megah, lalu datang dan mengatakan padaku “aku masih sangat mencintaimu  aurel”
                Aku mengingat kembali masa lalu ku yang membuatku semakin merindukannya. Semua yang terjadi saat masih SMA, sehingga sekarang kami telah tumbuh dewasa. Semuanya terasa indah, kepolosannya, ketulusannya sangat ku sukai.
Sungguh aku sangat merindukan dan menginginkannya saat ini, berdiri di sampingku, tersenyum seolah-olah dunia ini hanya milik aku dan dia. Aku terhanyut dalam lamunanku sendiri.
                Dimana hati dimana fikiran, dimana raga sudah linglung whateverlah refan mau berkata apa. Tapi yang pasti perasaan tidak bisa dipaksa buat dihetikan bukan? Mungkin ini karena omonganku juga sih, ya memang aku pernah bilang ke azam kalau nanti dia pergi aku pasti mudah melupakannya dan cari penggantinya. Well udah resiko juga sihh, karna memang berlaku.
Sampai kapan aku bakal gini terus, bakal bohongin refan terus??hh ntahlah
                Masih aku ingat ucapan refan beberapa minggu yang lalu untuk memintaku bangkit dan tak mengingatnya lagi. Tapi bukan aku tidak melupakanya hanya saja tidak mudah bagiku ntuk menghapus semua ingatanku tentangnya. 
                .  kabar terakhir yang aku dengar dia masih sangat mencintaiku. Tapi aku bingung, kenapa cinta kami tidak bisa di pertemukan.   Aku menangis , Dia tidak pernah tau bagaimana rasanya menjadi aku yang sangat menyesal  telah mengabaikannya . 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar