Motuo County, China
Di antara dedaunan yang satu per
satu mulai gugur menghiasi sajadah panjang kehidupan, biarlah semua nestapa dan
duka runtuh bersama daun terakhir yang jatuh kala penghujung musim gugur tiba,
membiarkannya jatuh bergelut abu lalu terinjak oleh kaki-kaki yang sengaja
dipijakkan ke bumi, menjadikannya miniatur kehidupan yang hanya bergantung pada
usia dan waktu. Terkadang berteriak penuh kuasa, lalu menangis kemiskinan
dengan rintihan tanpa suara, dan terkadang menepuk-nepuk dada bangga lalu cemas
dan berharap tanpa ada daya, semuanya terjadi begitu saja sealur dan sejalan
dengan takdir Tuhan yang telah tertitahkan lewat setiap denyut nadi nafas
kehidupan.
Tuan
yin begitulah lelaky paruh baya itu di panggil. Seorang lelaki yang kurang dari cukup dalam harta untuk
membiayai seorang anaknya, ia juga seorang lelaki parubaya yang dikenal sebagai
tokoh masyarakat yang sangat berpegang teguh dan tidak bergeming seikitpun
dalam memegang teguh agama islam.
Namun
kini ia tertunduk lesu di ruang tunggu pasien salah satu rumah sakit di motuo
county china, dengan perasaan cemas dan harap. Menutupi wajah yang bimbang
dengan tangan kiri sembari menggendong
seorang bayi kecil seraya bermunajat di antara dinginya malam, juga
gemerisik guyuran hujan yang sedari tadi terus menerus Tuhan hujamkan ke bumi.
Ia bermunajat demi kesembuhan puteri satu-satunya dengan doa yang tak bisa
terjamah oleh rangkaian kata-kata abstrak
Pada
secarik nafas kehidupan, lelaki parobaya itu berdiri di tengah kebimbangan yang
sangat. Mereka-reka kembali memori
nestapa yang tanpa henti lalu-lalang dalam kehidupannya. Tanpa henti ia
panjatkan doa agar diberi ketabahan atas semua cobaan yang ia derita.
Masih
jelas terlintas dalam ingatan tuan yin seperti halnya putaran video yang setiap
saat bisa ia putar. Ketika istrinya meninggal, kemudian i ikuti putrinya yang di perkosa oleh beberapa lelaky, dan usai
melahirkan beberapa bulan kemudian putrinya dinyatakan mengidap penyakit HIV,
hingga tak jarang putri tunggalnya itu dirujuk ke puskesmas di desa, bahkan
terkadang ke rumah sakit terkemuka di kota dengan modal Jamkesmas. Yaa uang mana lagi yang akan ia
bawa untuk kesembuhan anknya itu? Meski telah beberapa kali dirujuk ke rumah
sakit, penyakit itu tetap saja kambuh menggerogoti jiwa putrinya yang kian
layu. Hingga di siang itu, ketika kediaman tuan yin gaduh sebab putrinya yang tiba-tiba mengerang
kesakitan karna penyakit HIV yang dideritanya kambuh dengan kesakitan yang
sangat.
Jam berdetak cepat secepat detak janttung kuan yin. Ia melagkah
kesan kemari layaknya setrika yang sedang menyeterika pakaian. Lelaki umur 50.an
itu tidak memikirkan apa-apa selain anaknya. Setelah lebih dua jam kuan yin
menunggu. Dokter keluar perlahan dari ruang ICU dihiasi dengan mukaa sedih. “pertanda
buruk”
“dok
gimana keadaan anak saya?’ kuan yin terlihat begitu cemas.
“maaf”
“kenapa
dok?”menyela pembicaraan
“putri
anda tidak bisa di tolong, daya tahn
tubuhnya sangat lemah. penyakit itu menyerang daya tahan tubuhnya sehingga
sistem kekebalan tubuh menjadi tidak berdaya dalam melawan keadaanya sendiri”
Air
mata terus mengalir membasahi pipi Tuan yin. Ia tak menyangka putri
satu-satunya bisa pergi secepat ini. Tuan yin hanya tersungkur di pojok rumah
sakit sebelum akhirnya ia bangkit
tuan yin hanya menatap nanar sorang bayi lelaki di depannya.
Ia masih saja meneteskan air mata Dengan sedikit kekuatan yang ia punya.
“lee kaulah teman
kakek satu-satunya. Kakek berjanji akan benar-benar menjagamu” ucapnya masih
saja terisak
—
musim semi itu telah tiba, terlihat
tubuh bayi mungil masih berbalut selimut
di atas tempat tidurnya. Yaa dia adalah lee. Satu-satunya keluarga yang di
punya tuan yin saat ini. Dia menatap sayu anak yatim itu. sebelum air matanya
meleleh
“kau akan tumbuh menjadi lelaky
yang kuat lee, seperti namamu” ucapnya seraya mengusp kepala lee
Angin berhembus sepoi membelai
dedaunan, burung-burung bernyanyi riang di antara ranting cabang pepohonan,
seakan tanpa henti menucapkan tahmid, takbir dan tahlil pada sang hiang
kehidupan. Sunrise baru saja pergi meninggalkan kenangan tak terlupakan lewat
goresan jingga yang kini memudar berganti kehangatan mentari yang tanpa bosan
menghangati alam raya ini.
Tukk..tukk..tukk..!!!
Terdengar beberapa suara langkah kaki memasuki halaman rumahnya . di ikuti teriakan-teriakan
cukup keras dari luar sana
“tuan yin..” teriak seorang
laki-laki
Brukkk..brukk..brukkk. tendangan kaki berulang-ulang terdengar
dari pintu rumahnya.
“tuan yinn keluar kau” suara itu lagi terdngar kembali
Tapi kali ini ia menggedor-gedor jendela yang seikit kusam itu. dengan
perasaan tak menentu. Tuan yin segera membuka pintu rumahnya.
Tepat
di teras rumahnya, tuan yin menatap lekat lekat para tetangganya yang berdiri i
depan rumahnya dengan pancaran emosi yang meluap-luap menatap laki-laki tua
iitu
“ada
apa ini?” tuan yin menatap satu demi satu wajah mereka.
”cepat
tinggalkan rumah ini” teriak fang. Lelaki yang lebih muda darinya
“tenang-tenang
in ada apa?” tuan yin semakin bingung
“hey
putrimu kan terekena penyakit HIV jadi cucumu itu sudah pasti terjangkit
penyakit AIDS, dan kami tidak mau anak-anak kami tertular oleh penyakit itu,
sekarang kau harus pergi tingglkan desa ini”
“tapi
kami harus tinggal dimana?”
“ahh
ittu urusanmu” selanya seraya menarik paksa lengan lelaki tua itu. kemudan
seorang pemuda yang lain masuk kedalam rumahnya dan membawa lee keluar. Di
tangan kanany terdapat yas besar milik tuan yin
“bawa
pergi bayi menjijikan ini” ucapnya mnyerahkan lee ke tuan yin.
Tanpa
banyak kata ia lagsung menggendong bayi kecil dan meneteng tas itu. ia berjalan
tanpa alas kaki dan terbang menyusuri ladang jagung, teh, dan padi yang ulai
tunduk menguning bersama angin teduh sore itu.
Wajah seih penuh derita terpancar jelas dari setiap guratan kulit yang
semakin menua dan keriput. Senyumnya sedikit mengembang di setiap langkahnya
yang mantap, sedikit miring ke kanan agak berat tubuh rentanya menopang bayi
mungil di lengan kirinya. Sementara tangan kanan memegang tas besarnya.
kemudian hinggap di ranting pohon beringin yang amat ridang yang tampak tak di
tumbuhi benalu sedikitpun. di bawahnya terdapat aliran air yang mengalir jernih
menuju lautan, di telinganya terngiang nyanyian jangkrik sore ikut menyemarakan hatinya. Kemejanya menarik
tuan yin untuk menjelejah lebih jauh, tuan yin kembali terbang menyusuri hutan
lebih dalam dan sampailah di sebuah rumah yang asing menurutny. Ia menyusuri
rumah itu untuk sekedar mencari tumpangan tidur semalam.
Brakk...
Terdengar sesuatu jatuh dari dalaam rumah, tuan yin langsung
membuka pintu dan ternyata hanya seekor kucing dan tikus-tikus kecil yang
berkeliaran di dalam rumah. Rumah ini seperti kapal pecah yang seperti
menghantam karang besar disana-sini
barang-barang berserakan, patah-mematah, bahkan hancur dimakan rayap. Tuan yin
menelanjangi seluruh bilik rumah ini, kalau-kalau ada penghuni yang tinggal
disini ia bisa menumpang istirahat semalam. Tidak ada seorangpun yang ia temui
di situ
tuan yin berdiam sebentar di sebuah rumah tak
berpenghuni, rumah ini sangat pengap dan hanya tedapat satu ruangan di
dalamnya, di sudut ruangan tedapat barang-barang tua yang telah terbungkus debu
juga sisa-sisa piring bekas makan dengan bau sisa makanan yang menyebar di
seluruh ruangan dan membuat ruangan ini semakin pengap. kemudian tua yin duduk di pangkuan kursi yang terbuat dari rotan muda. Ia tertunduk
lesu merenungi sketsa tuhan yang di
takdirkan untuknya, seperti halnya hujan yang sekarang menghiasi angkasa.
Sepintas mata kian terpejam dan menatap tipis, seakan berusaha me-rekah ulang
masa indah yang telah lama menjadi ingatan semu dalam batin, dan meraga dalam,
sampai ke ufuk jiwa di seberang taman ruh. Peerlahan lengan renta itu mendekap
erat tubuh mungil lee.
Esokny saat Matahari ganas mulai
melotot ke arah bumi, tak berkedip sedikitpun kecuali terhalang awan yang
berbondong-bndong berlarian sejalan dengan arah angin. Kini ia duduk di antara
beberapa pohon di hutan itu. beberapa tumpukan kayu bakar dan ubi sudah terkumpul di sebelahnya. namun
kaki dan tangannya tak cukup kuat menopang kayu-kayu itu. maka ia putuskan
untuk memulihkan tenaganya sejenak
tuan yin diam terpungkur, matanya nanar menatap kabut. Ia menyadari
umurnya bagaiman nasib lee jka tuan yin sudah tiada. Tubuh rentanya semakin hari semakin lemah saja. Terkadang
ketakutan-ketakutan itu terlintas begitu saja dalam benakanya . Takut yang tak
dapat dia bagi dengan yang lain. Beberapa kali dalam masa tuanya ada masa
dimana dia harus berkelit terhadap bayangan hitam yang akan menerkam dan
mencabik tubuh rentanya yang ringkih.
Dan dia selalu tetap bertahan walau terkadang dalam tangis dia meminta
Tuhan-nya agar menjaga lee setiap waktunya.
orang
tua renta seumuran tuan yin
biasanya
menghabiskan masa hidupnya bersama anaknya. Menanti ajal sambil terus
beristighfar di atas kursi reot . mengingat dan memohon ampunan TUHAN atas
dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah ia perbuat semasa hidupnya.
jauh di dalam lubuk hati tuan yin ada dendam yang tak dapat
dia hapus dari memorinya. Dia telah mengadu pada Tuhan-nya dalam doa-doa
panjangnya. Bahkan dia bertanya dengan marah “Tuhanku, apa salah ini, aku pasti
akan menuntutnya dalam persidangan-Mu nanti”, kadang ada rasa ingin memaafkan
di hatinya dan lain kali dia membatalkannya.
‘”ekhemmm”
Suara batuk kecil, namapak membelah dinding hutan bertembok
pepohonan. Terik sang surya mulai membakar tubuh tuan yin. Ia segera bankit dan
menopang kayu-kayu bakar itu di bahunya.
Ia mempercepat langakah kakinya yang mulai berat. Sudah terlalu lama ia
meninggalkan lee sendiri.
2012
Cahaya terang itu
berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua
mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya.
“Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan merdu, layaknya
seorang rocker yang sedang menunjukkan aksi hebohnya bernyanyi di atas panggung
megah.
Satu tahunsudah
lamanya aku berada di tempat yang sangat sempit ini, gelap engan di keilingi
suatu benda yang jelas tidak aku ketahui, namun dengan sabarnya sebuah tangan
dan suara suara itu mengenalkanku pelan0pelan pada tiap apa yang tidak aku
ketahui. Yaa dia selalu menyebut dirinya “kakek”
Saat ini
hanya seseorang itu yang selalu
melindungiku saat musim dingin tiba, mengendongku saat tangisku terdengar
menyeruak
“lee
bangun kau nak” ucapnya teengar sangat lembut di telingaku. Aku sedikitpun tak
menhiraukannya akku masih saja menangis. Dan aku baru diam saat tubuhku terasa
di angkat
dua tahun kemudian tepat di saat umurku menginjak 3thun aku sedikit
mengerti. Lee itulah namaku. Dan laki-laki yang selalu bersamaku itulah kakeku.
Kakek selalu menceritakan sesuatu tentang kenapa kami harus disini dan itu
membuatku berfikir keras karna aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia
katakan. Fikiranku hanya bagaimana aku menghabiskan waktuku seceria mungkin.
Setiap pagi usai akudimandikan di
sumur tua kakek selalu mengajakku pergi mencari bahan maakanan. Aku hanya diam
dan memeluknya erat saat aku merasa
tubuhku condong kekanan condong kekiri. dia menggendongku di punggungnya dengan langkah
yang penuh beban. Sesampainya di tempat kakek selalu meletaakaknku di bawah
pohon pisang sebelum akhirnya ia meninggalkanku sendirian.aku hanya diam
melihat kakek yang tak jauh daar pandaanganku sibuk menarik pohon ketela dengan
sisa tenaganya. Tidak berubah seiap hari aku selalu menangis saat tenggoranku
terasa kering. Dengan langkah cepat kakek datang menghampirku dengan segelas
air yang diambilnya dari sungai dekat hutan ini. Karna memang kakek tak pernah
membawakanku minuman dari rumah.
Musim semi datang kembali, aku
hanya bisa diam dan menangis melihat tubuh renta kakeku tidur tak berdaya di
atas ranjang itu. sesekali kakek memanggilku untuk mengambilkan minum. Aku
mengangguk menurut kemudian berjalan kebelakang. Trkadang aku merasa sulit
mengambil air di dalam panci yang kakek letakan di atas kompor kayu. Aku selalu menggunakan kursi kecil dari
kayu untuk memanjat
Ekhmmm ekhmmm ekhmmm
Suara batuk kakek terdengar kencang
“lee..! lee !” terdengar kakek memanggilku dengan suara yang
tak seperti biasanya
Aku segera berlari menuju kamar seraya memegang gelas dengan
hati-hati menjaga air yang ku bawa agar tidak tumpah. Meski beberapa kali aku
merasakan tanganku basah akibat
gemericik air yng ku bawa tergoncangan tangan. Aku sedikitpun tak
mempedulikanya. Aku terus berlari. Sesampainya dikamar. Aku melihat kakek
tertidur sangat pulas. Aku tersenyum lega seraya meletakan air ke samping meja
kamar.
aku berjalan keluar,bau khas tanah yang
terkena hujan langsung menyapaku saat aku keluar dari dalam rumah. Tepat di
depan pintu aku menyilakan kaki untuk duduk disitu. Hujan rintik-rintik kecil
cukup membasahi tanah yang saat ini berwarna hitam hingga membuat lingkaran-lingkaran kecil bekas tetes
hujan itu tidak terlalu tampak.
Tetesan air kecilpun terus gemericik
halus, Burung-burung pun mulai ribut di balik cabang-cabang pohon yang rindang
di sana, mungkin mereka sedang sibuk memanggil satu dengan yang lain agar
bersiap-siap untuk segera terlelap menjelang senja. bui-bui kicauannya menaungi
batas pikiran memecah kelemahan batin yang lama ku pupuk di punggung hati ku
ini.
“masih indah kupandangi langit dari
sini, walaupun tanpa sosok orang tua yang memeluk tubuh mungilku ini. Terkadang
aku berpikir gimana rasanya di peluk oleh ayah dan ibu? Pasti sangat menyenangkan.
Hhh ayah dan ibu disana pasti akan bersedih melihatku yang berkaabung seperti
ini. Ahh sudahlah kan masih ada kakek yang menyayangi dan mencintaiku lebih
dari apapun”
Kelihatanya alunan kemuningan corak
senja tinggal setitik saat ku pandang. Aku putuskan untuk berjalan masuk ke
dalam kamar kakek. Kakek masih trlihat sangat pulas. Tapi aku tetap harus
membangunkanya karna dari tadi siang kakek belum makan.
”kek” panggilku lirih tapi kakek
sepertinya tidak mendengarku
“kakek” panggilku lagi seraya
menggenggam tanganya. Tapi aku meraskan tangan itu dingin dan kaku. Kakek juga masih
tak membuka matanya. Aku sedikit panik
“kekkk....bangun kekk” aku mulai
mengoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Kakek ! kakek bangunnnn” aku terisak
dan menyandarkan kepala di atas dadanya. “kakeekkkkkk” tangisku semakin pecah.
Di ikuti suara petir yang menggelegar dari luar
“aku tak punya siapa siapa lagi kek
jangan tinggalkan aku” ujarku tapi kakek sama sekali tak menjawab bibir nya tertutup rapat dan pucat
Di luar hujan tak lagi terdengar.
Aku bergegas keluar dan berlari menuju perkampungan. Aku harus minta bantuan
untuk menguuburkan jasad kakek. Angin malam berhembus menusuk sukma,
menggetarkan raga dan membuat suasana kian mencekam. Pepohonan yang bergoyang
pun ikut menari terkena semilirnya angin yang dingin seolah-olah berkata bahwa
aku ingin sekali dipeluk dengan kehangatan yang tulus.
Kolaborasi antara gelap, malam,
petir, dingin, angin dan sunyi pun membuat suasana bumi semakin tak
bergravitasi, dunia tak menyapa, jangkrik tak mengkerik, kelelawar tak keluar,
bintang tak gemilang, dan burung hantu enggan menampakkan dirinya di pohon
jambu. Nafasku terasa tersengal tapi Aku harus tetap berlari. Aku memilih jaln
di sebeah barat rumahku, jika lewat
jalan itu aku bisa sampai lebih cepat namun resikonya lebih besar karena aku
harus melewati jurang-jurang dengan lantai yang licin, terlebih pada saat itu
hujan baru saja meyerbu desa kecil ini
Setengah jam aku berlari tidak
terasa tinggal beberapa tanjakan lagi yang harus aku lalui. Aku memijakan
kakiku lebiih kuat tapi brukkkk.... kakiku tersandung. Masyaallah..lututku
berdarah. Perih, sakit aku ingin menangis tapi itu tak mungkin aku lakukan.
Akhirnya aku berjalan pelan
Setibanya di perkampungan. iba-tiba
terdengar suara rintihan dalam balutan doa dari sebuah rumah yang sederhana.
Aku lagsung mengetuk pintu rumah itu
Tokkk...tokk ..tokk
Tidak ada jawaban. Tokk tokk aku mengetuk pintu itu lagi
seraya Aku mengintip ddari sela-sela jendelanya
“Ya Allah… kuatkan hati hamba, semoga bisa melewati semua
cobaan ini”
Suasana kamar itu begitu hening, ditambah redup lampu yang tak begitu terang.
Membuat suasana semakin syahdu. Wanita itu segera mengusap pipinya yang basah
oleh air mata, pelan-pelan dia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. dan
akhirnya
Krakkkkkkk..pintu rumah terbuka.
“adik siapa?” tanya wanita itu
kepadaku seraya menengok kesana kemari seperti mencari seseorang
“saya lee. tolong saya nyonya,
kakek saya harus segera di makamkan” aku memelas
“masya.allah rumahmu dimana?”
Aku menunjuk arah utara yang saat itu adalah hutan.
“di
tengah hutan” tanyanya seraya menekuk lututnya bersipuh di depanku aku mengguk
saja. “masyaallah kau terluka nak” ucapnya lagi ketika menatap lututku yang
berdarah. “maari masuk dulu kita obati lukamu”
“tapi
kakek saya...”
“kitaa
obati dulu baru kita cari bantuan” selanya. Aku mengangguk menyetujui
Hari
mulai beranjak malam Pukul 22.00. kepalaku terasa semakin berat . kantuk
semakin mengamuk. Aku terus mempercepat langkah kakiku badanku terlalu letih
untuk perjalan sejauh ini. Tapi jasad kakek harus segera di makamkan.aku tereus
melangkah dengan orang-orang dari
kampung itu lalu langkahku terhenti di sebuh rumah papan itu. pintunya masih
tertutup rapat seperti awal aku meninggalkanya. Senyap. Tak ada suara kakek
yang biasanya sibuk menyanyikan lagu buatku. Aku di temani bebrapa orang dan
ibu tadi masuk ke dalama kamar. Kakek masih terlihat terbaring di atas tempat
tidur. Diam bergeming. Ibu yang mengobati lukaku memegang pergelangaan tangan
kakek. Lalu menentuh lehernya. “innalilahi wa innailahi roji’un” seru ibu tu.Tiba-tba
keringat dingin keluar . wajahku muali pucat. Pandanganku kabur. Lalu kemudian
aku tak ingat lagi...