saya bingung sama diri saya, dua hari belakangan ini pikiran terasa kacau, rindu mengeluap ingin bertemu ibu d kampung, ingin duduk di teras depan berbagi cerita kembali, rasanya ingin pulang dan tag ingin disini. ahh tapi itu tidak mungkin saya lakukan. mana mungkin saya pulang dengan tangan hampa?
saya ingat bahkan sangat ingat bagaimana mereka melecehkan keluarga kami, memandang sebelah mata karna kemiskinan itu. sebelum keputusan sekolah disini saya ambil, saya sempat mendaftar di salah satu perguruan tinggi islam di kampung saya selang beberapa hari ujian. ada salah seorang yang mengatakan kepada kami "bapak dan ibumu itu orang tidak punya kalau kamu disini mereka tidak akan bisa membantu. mending kamu balik kejakarta biar di bantu kak toni sekolahmu itu"
menurut pembaca apa yang bisa pembaca rasakan? saat kalian berhadapan dengan situasi seperti itu? saat sebuah nasihat terasa tampaaran keras yang menyakitkan. bukan itu saja beberapa orang juga sempat mengatakan kepada saya "kalalu kamu disini mau jadi apa? selang beberapa tahun kami yakin kamu akan menikah duluan dan putus kuliyah(hamil diluar nikah)" astaghfirullah apa saya seorang muslim sehina itu sehingga mereka berhak berbicara semacam ini? saya hanya diam berenung panjang, saya tidak mungkin di kampung terus-terusan melihat pribadi saya dan kedua orang tua saya dihina.dan seingat saya dalam sebuah kitab alala di jelaskan bahwa ingin mencari kemulyaan kita harus pergi dari desa jangan terus terusan berdiam berkumpul dengan orang" pengadu domba dan dengki. esoknya saya segera membeli tiket dan kembali ke kota ini. tapi alasan saya kembali bukan untuk disekolahkan. INGAT bukan untuk di sekolahan !! saya akan berusaha sekolah dengan biaya sendiri. saya tidak ingin semakin di rendahkan sama mereka. semua terasa mustahil memang tapi percayalah tuhan tag kan pernah meninggalkan kita. saya akan istikhamah dan juga tirakat. yah hanya itu modal saya saat ini.
kumpulan cerita dan puisi
tak terlerai gelisah berkepanjangan,jikalau hanya bertuhankan perasaan.Tak tergerai resah berkelanjutan,jikalau perasaan tanpa dasar pemikiran.Tak tercerai gundah berkesinambungan,jikalau pemikiran tanpa cahaya Tuhan.
Kamis, 04 September 2014
Jumat, 29 Agustus 2014
aku ingin jadi sarjana
Dalam sabar seekor ulati yang menjijikan akan berubah menjadi kupu-kupu yang indah (hitam putih)
aku sekarang sadar bagaimana pengorbanan untuk menjadi seorang sarjana itu sangat besar, bukan hanya materi tapi juga prinsip. jujur aku sebenarnya tidak ingin kesuksesanku ada campur tagan materi dari orang lain. untuk merepotkan kedua orang tuaku saja itu tidak mungkin jadi mana bisa aku merepotkan oranglain? sekalipun itu masih sekeluarga.
sampai sekarang aku masih berfikir bagaiman aku bisa mengelola uang bulanan yang hanya 700 itu untuk mencukupi kebutuhanku selama di kota besar ini JAKARTA, untuk bisa membatu orang tuaku i desa, untuk mencukupi biaya semesterku 2 jt setengah? aku tidak sombong menolak tawaran mereka tuhan hanya saja aku tidak ingin menerima uang cuma-cuma tanpa harus ada yang bisa aku lakukan untuk mereka. aku tidak ingin menjadi wanita seperti itu.
Ya Allah bukan aku ingkar terhadap takdirmu bukan juga meragukan rizki darimu, hanya saja ini terlalu sulit tapi aku percaya ini hanya sebentuk ujian untuk menguatkan imanku dan aku percaya jika aku bisa bekerja untukMu akan tercukupi semua kebutuhan ini. ampuni aku tuhan sama sekali tag ada niat semacam itu
aku sekarang sadar bagaimana pengorbanan untuk menjadi seorang sarjana itu sangat besar, bukan hanya materi tapi juga prinsip. jujur aku sebenarnya tidak ingin kesuksesanku ada campur tagan materi dari orang lain. untuk merepotkan kedua orang tuaku saja itu tidak mungkin jadi mana bisa aku merepotkan oranglain? sekalipun itu masih sekeluarga.
sampai sekarang aku masih berfikir bagaiman aku bisa mengelola uang bulanan yang hanya 700 itu untuk mencukupi kebutuhanku selama di kota besar ini JAKARTA, untuk bisa membatu orang tuaku i desa, untuk mencukupi biaya semesterku 2 jt setengah? aku tidak sombong menolak tawaran mereka tuhan hanya saja aku tidak ingin menerima uang cuma-cuma tanpa harus ada yang bisa aku lakukan untuk mereka. aku tidak ingin menjadi wanita seperti itu.
Ya Allah bukan aku ingkar terhadap takdirmu bukan juga meragukan rizki darimu, hanya saja ini terlalu sulit tapi aku percaya ini hanya sebentuk ujian untuk menguatkan imanku dan aku percaya jika aku bisa bekerja untukMu akan tercukupi semua kebutuhan ini. ampuni aku tuhan sama sekali tag ada niat semacam itu
Sabtu, 15 Maret 2014
dan kamu tak kan tau
6 juni 2012 hari dan tanggal itu
menjadi awal kepahitanku. Aku mengenal seorang lelaki tanpa sengaja lewat
poselku, dia adalah temanya temanku. Fauzam radit ardyansyah nama itulah yang
sampai saat ini masih aku ingat.
aku mengenalnya setelah aku putus
dengan refan kekasihku seminggu yang lalu. ini bukan pertama kalinya aku membicarakan perasaan
yang sama sekali tidak pernah ada. selalu saja aq menyentuh hidup mereka
dengan niat untuk menghancurkanya. selalu saja aku menatap matanya padahal
semua yang kulakukan adalah kebohongan. hal paling kejam yang ku lakukan
adalah membiarkan mereka mencintaiku sementara aku berniat untuk tidak
mendapatkanya. Itu juga yang saat ini aq lakukan pada azam. Aq tak begitu mengenalnya tapi dengan
mudahnya saat ia menyatakan persaanya aq mengatakan “iya”.
Sebenarnya aku masih paham dengan
isi hatiku bahwa sampai saat ini aku masih sangat mencintai refan dan aku tidak
punya perasaan apa-apa terhadap azam. Aku masih ingin sekali kembai denganya.
Tapi rasa kecewaku padanya membuatku ambil keputusan segila ini. Tiga hari
setelah aku menerima azam, refan kembali hadir mengutarakan segala perasaan yang tak pernah
ingin kehilanganku. Tanpa memikirkan azam aku menerimanya kembali.
Aku tau memang aku egois, tapi aku tidak
ada pilihan. Aku masih mencintai refan dan aku tidak bisa melepas Azam. Aku
juga sangat menyukai kedua sifat mereka. Refan adalah cowok yang selalu ada
waktu buatku, selalu mementingkan aku dalam keadaan apapun walau sering kali dia
sangat kasar terhadapku. Tapi aku tau sifatkasarnya hanya karna ia tidak ingin
kehilanganku meski itu sangat
keterlaluan..dan ia sudah berjanji akan menghilangkan sifat buruknya itu. Sementara
azam dia hampir mirip dengan kriteriaku tampan, pintar, baik, jago agamanya.
Hampir sempurna, tapi itu sama sekali tidak bisa membuat cintaku memihaknya
Kedua sifat mereka yang berbeda dan
menurutku unik yang mampu membuatku bertahan hingga satu tahun. Selama satu
tahun itu aku sama azam jarang ada kontak, waktuku kesita penuh dengan refan, jelas-jelas aku
tau bahwa refan masih sering kali membuatku marah, nangis, dan kecewa. Tapi aku
selalu datang ke azam dan dia juga yang selalu menghimburku. azam selalu saja memaklumi setiap alasanku
untuk menolak bertemu denganya, memaklumi setiap alasanku kenapa aku tidak pernah
menghubunginya. Dia selalu saja mencoba mengerti kedaanku. Aku heran kenapa dia
segitu baiknya sama aku?
Satu tahun berlalu semua berjalan
sangat lancar mereka tidak ada yang tahu kalau mereka sudah aku duain. Tapi
sepandai-pandainya menyimpan kebusukan pasti akan tercium juga. Tepat pada saat
ualang tahun azam bumerang itu ada. Mereka tahu tentang permainanku selama ini.
Mereka merasa tertipu dengan cinta rekayasaku. Awalnya aku tak pernah berfikir akan
momen ini saat aku duduk di antara mereka dan mereka memintaku untuk memilih
salah satu di antara mereka. Ini sulit ?? fikirku
Dan pada akhirnya ..
aku memilih refan. Entah kenapa
perasaanku pada azam yang semula tidak ada respect apa-apa kini merasa berat
untuk melepasnya, ANEH.
Aku mencoba menghahabiskan
hari-hariku seolah tidak pernah ada kejadian apa-apa. Tapi ternyata
tidak semudah itu.. saat ini aku hanya terdiam dan terpaku tidak pernahku tau
apa yang harus aku lakukan. Menjalin hubungan dengan revant ternyata tidak
sebaik yang aku fikirkan semua tidak menyelesaikan masalah. Ternyata memang
benar hatiku tidak dapat berdusta bahwa aku juga mencintai azam.
Beberapa
bulan berlalu aku mendengar kabar bahwa azam sudah tidak sendiri lagi. Hatiku
benar-benar kelu mendengar semua itu. tapi aku fikir mungkin semua sudah
saatnya harus aku lupakan. Aku mencoba move on atas semua ini, selang satu
bulan aku sudah tak ingat lagi tentangnya. Tapi aneh memang tiba tiba dia datang menemuiku tanpa
sepengetahuan revan, pertemuan itu dia bilang tidak bisa melupakanku..dan dia
memintaku untuk mennggalkan revan. Duhh
hatiku deg-degan ternyata hatiku masih dimilikinya. Tapi aku tidak bisa meninggalkan
revan begitu saja. Aku tak tega.
Hari ini aku duduk di beranda bukit
itu. menunggu senja menjemput menunggu azam yang aku harapkan bisa kembali
hadir. Tapi aku rasa ia mulai menjauhiku lagi. Aku bingung. Kenapa dia seperti
itu ? apa ini gara-gara aku tak bisa menerima tawaranya ? ntahlah
Tapi yang jelas Di bukit itu, di langit biru itu, semuanya
mengingatkan aku pada azam yang telah aku sakiti begitu saja. Tertawa kecilku
mengingatkanya mungkin tak seorangpun yang tau termasuk revan, bahwa aku masih
di bukit ini, menunggunya di tengah keramaian, meihat lurus kedepan, berharap
dia akan kembali dengan kapal besar nan megah, lalu datang dan mengatakan
padaku “aku masih sangat mencintaimu
aurel”
Aku
mengingat kembali masa lalu ku yang membuatku semakin merindukannya. Semua yang
terjadi saat masih SMA, sehingga sekarang kami telah tumbuh dewasa. Semuanya
terasa indah, kepolosannya, ketulusannya sangat ku sukai.
Sungguh aku sangat merindukan dan menginginkannya saat ini, berdiri di sampingku, tersenyum seolah-olah dunia ini hanya milik aku dan dia. Aku terhanyut dalam lamunanku sendiri.
Sungguh aku sangat merindukan dan menginginkannya saat ini, berdiri di sampingku, tersenyum seolah-olah dunia ini hanya milik aku dan dia. Aku terhanyut dalam lamunanku sendiri.
Dimana
hati dimana fikiran, dimana raga sudah linglung whateverlah refan mau berkata
apa. Tapi yang pasti perasaan tidak bisa dipaksa buat dihetikan bukan? Mungkin
ini karena omonganku juga sih, ya memang aku pernah bilang ke azam kalau nanti dia
pergi aku pasti mudah melupakannya dan cari penggantinya. Well udah resiko juga
sihh, karna memang berlaku.
Sampai kapan aku bakal gini terus, bakal bohongin refan
terus??hh ntahlah
Masih
aku ingat ucapan refan beberapa minggu yang lalu untuk memintaku bangkit dan
tak mengingatnya lagi. Tapi bukan aku tidak melupakanya hanya saja tidak mudah
bagiku ntuk menghapus semua ingatanku tentangnya.
. kabar terakhir yang aku dengar dia masih
sangat mencintaiku. Tapi aku bingung, kenapa cinta kami tidak bisa di pertemukan. Aku menangis , Dia tidak pernah tau
bagaimana rasanya menjadi aku yang sangat menyesal telah mengabaikannya .
Jumat, 07 Maret 2014
lee
Motuo County, China
Di antara dedaunan yang satu per
satu mulai gugur menghiasi sajadah panjang kehidupan, biarlah semua nestapa dan
duka runtuh bersama daun terakhir yang jatuh kala penghujung musim gugur tiba,
membiarkannya jatuh bergelut abu lalu terinjak oleh kaki-kaki yang sengaja
dipijakkan ke bumi, menjadikannya miniatur kehidupan yang hanya bergantung pada
usia dan waktu. Terkadang berteriak penuh kuasa, lalu menangis kemiskinan
dengan rintihan tanpa suara, dan terkadang menepuk-nepuk dada bangga lalu cemas
dan berharap tanpa ada daya, semuanya terjadi begitu saja sealur dan sejalan
dengan takdir Tuhan yang telah tertitahkan lewat setiap denyut nadi nafas
kehidupan.
Tuan
yin begitulah lelaky paruh baya itu di panggil. Seorang lelaki yang kurang dari cukup dalam harta untuk
membiayai seorang anaknya, ia juga seorang lelaki parubaya yang dikenal sebagai
tokoh masyarakat yang sangat berpegang teguh dan tidak bergeming seikitpun
dalam memegang teguh agama islam.
Namun
kini ia tertunduk lesu di ruang tunggu pasien salah satu rumah sakit di motuo
county china, dengan perasaan cemas dan harap. Menutupi wajah yang bimbang
dengan tangan kiri sembari menggendong
seorang bayi kecil seraya bermunajat di antara dinginya malam, juga
gemerisik guyuran hujan yang sedari tadi terus menerus Tuhan hujamkan ke bumi.
Ia bermunajat demi kesembuhan puteri satu-satunya dengan doa yang tak bisa
terjamah oleh rangkaian kata-kata abstrak
Pada
secarik nafas kehidupan, lelaki parobaya itu berdiri di tengah kebimbangan yang
sangat. Mereka-reka kembali memori
nestapa yang tanpa henti lalu-lalang dalam kehidupannya. Tanpa henti ia
panjatkan doa agar diberi ketabahan atas semua cobaan yang ia derita.
Masih
jelas terlintas dalam ingatan tuan yin seperti halnya putaran video yang setiap
saat bisa ia putar. Ketika istrinya meninggal, kemudian i ikuti putrinya yang di perkosa oleh beberapa lelaky, dan usai
melahirkan beberapa bulan kemudian putrinya dinyatakan mengidap penyakit HIV,
hingga tak jarang putri tunggalnya itu dirujuk ke puskesmas di desa, bahkan
terkadang ke rumah sakit terkemuka di kota dengan modal Jamkesmas. Yaa uang mana lagi yang akan ia
bawa untuk kesembuhan anknya itu? Meski telah beberapa kali dirujuk ke rumah
sakit, penyakit itu tetap saja kambuh menggerogoti jiwa putrinya yang kian
layu. Hingga di siang itu, ketika kediaman tuan yin gaduh sebab putrinya yang tiba-tiba mengerang
kesakitan karna penyakit HIV yang dideritanya kambuh dengan kesakitan yang
sangat.
Jam berdetak cepat secepat detak janttung kuan yin. Ia melagkah
kesan kemari layaknya setrika yang sedang menyeterika pakaian. Lelaki umur 50.an
itu tidak memikirkan apa-apa selain anaknya. Setelah lebih dua jam kuan yin
menunggu. Dokter keluar perlahan dari ruang ICU dihiasi dengan mukaa sedih. “pertanda
buruk”
“dok
gimana keadaan anak saya?’ kuan yin terlihat begitu cemas.
“maaf”
“kenapa
dok?”menyela pembicaraan
“putri
anda tidak bisa di tolong, daya tahn
tubuhnya sangat lemah. penyakit itu menyerang daya tahan tubuhnya sehingga
sistem kekebalan tubuh menjadi tidak berdaya dalam melawan keadaanya sendiri”
Air
mata terus mengalir membasahi pipi Tuan yin. Ia tak menyangka putri
satu-satunya bisa pergi secepat ini. Tuan yin hanya tersungkur di pojok rumah
sakit sebelum akhirnya ia bangkit
“lee kaulah teman
kakek satu-satunya. Kakek berjanji akan benar-benar menjagamu” ucapnya masih
saja terisak
—
musim semi itu telah tiba, terlihat
tubuh bayi mungil masih berbalut selimut
di atas tempat tidurnya. Yaa dia adalah lee. Satu-satunya keluarga yang di
punya tuan yin saat ini. Dia menatap sayu anak yatim itu. sebelum air matanya
meleleh
“kau akan tumbuh menjadi lelaky
yang kuat lee, seperti namamu” ucapnya seraya mengusp kepala lee
Angin berhembus sepoi membelai
dedaunan, burung-burung bernyanyi riang di antara ranting cabang pepohonan,
seakan tanpa henti menucapkan tahmid, takbir dan tahlil pada sang hiang
kehidupan. Sunrise baru saja pergi meninggalkan kenangan tak terlupakan lewat
goresan jingga yang kini memudar berganti kehangatan mentari yang tanpa bosan
menghangati alam raya ini.
Tukk..tukk..tukk..!!!
Terdengar beberapa suara langkah kaki memasuki halaman rumahnya . di ikuti teriakan-teriakan
cukup keras dari luar sana
“tuan yin..” teriak seorang
laki-laki
Brukkk..brukk..brukkk. tendangan kaki berulang-ulang terdengar
dari pintu rumahnya.
“tuan yinn keluar kau” suara itu lagi terdngar kembali
Tapi kali ini ia menggedor-gedor jendela yang seikit kusam itu. dengan
perasaan tak menentu. Tuan yin segera membuka pintu rumahnya.
“ada
apa ini?” tuan yin menatap satu demi satu wajah mereka.
”cepat
tinggalkan rumah ini” teriak fang. Lelaki yang lebih muda darinya
“tenang-tenang
in ada apa?” tuan yin semakin bingung
“hey
putrimu kan terekena penyakit HIV jadi cucumu itu sudah pasti terjangkit
penyakit AIDS, dan kami tidak mau anak-anak kami tertular oleh penyakit itu,
sekarang kau harus pergi tingglkan desa ini”
“tapi
kami harus tinggal dimana?”
“ahh
ittu urusanmu” selanya seraya menarik paksa lengan lelaki tua itu. kemudan
seorang pemuda yang lain masuk kedalam rumahnya dan membawa lee keluar. Di
tangan kanany terdapat yas besar milik tuan yin
“bawa
pergi bayi menjijikan ini” ucapnya mnyerahkan lee ke tuan yin.
Tanpa
banyak kata ia lagsung menggendong bayi kecil dan meneteng tas itu. ia berjalan
tanpa alas kaki dan terbang menyusuri ladang jagung, teh, dan padi yang ulai
tunduk menguning bersama angin teduh sore itu.
Wajah seih penuh derita terpancar jelas dari setiap guratan kulit yang
semakin menua dan keriput. Senyumnya sedikit mengembang di setiap langkahnya
yang mantap, sedikit miring ke kanan agak berat tubuh rentanya menopang bayi
mungil di lengan kirinya. Sementara tangan kanan memegang tas besarnya.
kemudian hinggap di ranting pohon beringin yang amat ridang yang tampak tak di
tumbuhi benalu sedikitpun. di bawahnya terdapat aliran air yang mengalir jernih
menuju lautan, di telinganya terngiang nyanyian jangkrik sore ikut menyemarakan hatinya. Kemejanya menarik
tuan yin untuk menjelejah lebih jauh, tuan yin kembali terbang menyusuri hutan
lebih dalam dan sampailah di sebuah rumah yang asing menurutny. Ia menyusuri
rumah itu untuk sekedar mencari tumpangan tidur semalam.
Brakk...
Terdengar sesuatu jatuh dari dalaam rumah, tuan yin langsung
membuka pintu dan ternyata hanya seekor kucing dan tikus-tikus kecil yang
berkeliaran di dalam rumah. Rumah ini seperti kapal pecah yang seperti
menghantam karang besar disana-sini
barang-barang berserakan, patah-mematah, bahkan hancur dimakan rayap. Tuan yin
menelanjangi seluruh bilik rumah ini, kalau-kalau ada penghuni yang tinggal
disini ia bisa menumpang istirahat semalam. Tidak ada seorangpun yang ia temui
di situ
tuan yin berdiam sebentar di sebuah rumah tak
berpenghuni, rumah ini sangat pengap dan hanya tedapat satu ruangan di
dalamnya, di sudut ruangan tedapat barang-barang tua yang telah terbungkus debu
juga sisa-sisa piring bekas makan dengan bau sisa makanan yang menyebar di
seluruh ruangan dan membuat ruangan ini semakin pengap. kemudian tua yin duduk di pangkuan kursi yang terbuat dari rotan muda. Ia tertunduk
lesu merenungi sketsa tuhan yang di
takdirkan untuknya, seperti halnya hujan yang sekarang menghiasi angkasa.
Sepintas mata kian terpejam dan menatap tipis, seakan berusaha me-rekah ulang
masa indah yang telah lama menjadi ingatan semu dalam batin, dan meraga dalam,
sampai ke ufuk jiwa di seberang taman ruh. Peerlahan lengan renta itu mendekap
erat tubuh mungil lee.
Esokny saat Matahari ganas mulai
melotot ke arah bumi, tak berkedip sedikitpun kecuali terhalang awan yang
berbondong-bndong berlarian sejalan dengan arah angin. Kini ia duduk di antara
beberapa pohon di hutan itu. beberapa tumpukan kayu bakar dan ubi sudah terkumpul di sebelahnya. namun
kaki dan tangannya tak cukup kuat menopang kayu-kayu itu. maka ia putuskan
untuk memulihkan tenaganya sejenak
tuan yin diam terpungkur, matanya nanar menatap kabut. Ia menyadari
umurnya bagaiman nasib lee jka tuan yin sudah tiada. Tubuh rentanya semakin hari semakin lemah saja. Terkadang
ketakutan-ketakutan itu terlintas begitu saja dalam benakanya . Takut yang tak
dapat dia bagi dengan yang lain. Beberapa kali dalam masa tuanya ada masa
dimana dia harus berkelit terhadap bayangan hitam yang akan menerkam dan
mencabik tubuh rentanya yang ringkih.
Dan dia selalu tetap bertahan walau terkadang dalam tangis dia meminta
Tuhan-nya agar menjaga lee setiap waktunya.
jauh di dalam lubuk hati tuan yin ada dendam yang tak dapat
dia hapus dari memorinya. Dia telah mengadu pada Tuhan-nya dalam doa-doa
panjangnya. Bahkan dia bertanya dengan marah “Tuhanku, apa salah ini, aku pasti
akan menuntutnya dalam persidangan-Mu nanti”, kadang ada rasa ingin memaafkan
di hatinya dan lain kali dia membatalkannya.
‘”ekhemmm”
‘”ekhemmm”
Suara batuk kecil, namapak membelah dinding hutan bertembok
pepohonan. Terik sang surya mulai membakar tubuh tuan yin. Ia segera bankit dan
menopang kayu-kayu bakar itu di bahunya.
Ia mempercepat langakah kakinya yang mulai berat. Sudah terlalu lama ia
meninggalkan lee sendiri.
2012
Cahaya terang itu
berebutan memasuki area penglihatanku, sehingga aku tak kuasa membuka kedua
mataku dan akhirnya akupun menangis sejadi-jadinya.
“Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan merdu, layaknya seorang rocker yang sedang menunjukkan aksi hebohnya bernyanyi di atas panggung megah.
“Oak… oak…” ya begitulah kiranya suara tangisanku yang khas nan merdu, layaknya seorang rocker yang sedang menunjukkan aksi hebohnya bernyanyi di atas panggung megah.
Satu tahunsudah
lamanya aku berada di tempat yang sangat sempit ini, gelap engan di keilingi
suatu benda yang jelas tidak aku ketahui, namun dengan sabarnya sebuah tangan
dan suara suara itu mengenalkanku pelan0pelan pada tiap apa yang tidak aku
ketahui. Yaa dia selalu menyebut dirinya “kakek”
Saat ini
hanya seseorang itu yang selalu
melindungiku saat musim dingin tiba, mengendongku saat tangisku terdengar
menyeruak
“lee
bangun kau nak” ucapnya teengar sangat lembut di telingaku. Aku sedikitpun tak
menhiraukannya akku masih saja menangis. Dan aku baru diam saat tubuhku terasa
di angkat
dua tahun kemudian tepat di saat umurku menginjak 3thun aku sedikit
mengerti. Lee itulah namaku. Dan laki-laki yang selalu bersamaku itulah kakeku.
Kakek selalu menceritakan sesuatu tentang kenapa kami harus disini dan itu
membuatku berfikir keras karna aku sama sekali tak mengerti dengan apa yang ia
katakan. Fikiranku hanya bagaimana aku menghabiskan waktuku seceria mungkin.
Setiap pagi usai akudimandikan di
sumur tua kakek selalu mengajakku pergi mencari bahan maakanan. Aku hanya diam
dan memeluknya erat saat aku merasa
tubuhku condong kekanan condong kekiri. dia menggendongku di punggungnya dengan langkah
yang penuh beban. Sesampainya di tempat kakek selalu meletaakaknku di bawah
pohon pisang sebelum akhirnya ia meninggalkanku sendirian.aku hanya diam
melihat kakek yang tak jauh daar pandaanganku sibuk menarik pohon ketela dengan
sisa tenaganya. Tidak berubah seiap hari aku selalu menangis saat tenggoranku
terasa kering. Dengan langkah cepat kakek datang menghampirku dengan segelas
air yang diambilnya dari sungai dekat hutan ini. Karna memang kakek tak pernah
membawakanku minuman dari rumah.
Musim semi datang kembali, aku
hanya bisa diam dan menangis melihat tubuh renta kakeku tidur tak berdaya di
atas ranjang itu. sesekali kakek memanggilku untuk mengambilkan minum. Aku
mengangguk menurut kemudian berjalan kebelakang. Trkadang aku merasa sulit
mengambil air di dalam panci yang kakek letakan di atas kompor kayu. Aku selalu menggunakan kursi kecil dari
kayu untuk memanjat
Ekhmmm ekhmmm ekhmmm
Suara batuk kakek terdengar kencang
“lee..! lee !” terdengar kakek memanggilku dengan suara yang
tak seperti biasanya
Aku segera berlari menuju kamar seraya memegang gelas dengan
hati-hati menjaga air yang ku bawa agar tidak tumpah. Meski beberapa kali aku
merasakan tanganku basah akibat
gemericik air yng ku bawa tergoncangan tangan. Aku sedikitpun tak
mempedulikanya. Aku terus berlari. Sesampainya dikamar. Aku melihat kakek
tertidur sangat pulas. Aku tersenyum lega seraya meletakan air ke samping meja
kamar.
aku berjalan keluar,bau khas tanah yang
terkena hujan langsung menyapaku saat aku keluar dari dalam rumah. Tepat di
depan pintu aku menyilakan kaki untuk duduk disitu. Hujan rintik-rintik kecil
cukup membasahi tanah yang saat ini berwarna hitam hingga membuat lingkaran-lingkaran kecil bekas tetes
hujan itu tidak terlalu tampak.
Tetesan air kecilpun terus gemericik
halus, Burung-burung pun mulai ribut di balik cabang-cabang pohon yang rindang
di sana, mungkin mereka sedang sibuk memanggil satu dengan yang lain agar
bersiap-siap untuk segera terlelap menjelang senja. bui-bui kicauannya menaungi
batas pikiran memecah kelemahan batin yang lama ku pupuk di punggung hati ku
ini.
“masih indah kupandangi langit dari
sini, walaupun tanpa sosok orang tua yang memeluk tubuh mungilku ini. Terkadang
aku berpikir gimana rasanya di peluk oleh ayah dan ibu? Pasti sangat menyenangkan.
Hhh ayah dan ibu disana pasti akan bersedih melihatku yang berkaabung seperti
ini. Ahh sudahlah kan masih ada kakek yang menyayangi dan mencintaiku lebih
dari apapun”
Kelihatanya alunan kemuningan corak
senja tinggal setitik saat ku pandang. Aku putuskan untuk berjalan masuk ke
dalam kamar kakek. Kakek masih trlihat sangat pulas. Tapi aku tetap harus
membangunkanya karna dari tadi siang kakek belum makan.
”kek” panggilku lirih tapi kakek
sepertinya tidak mendengarku
“kakek” panggilku lagi seraya
menggenggam tanganya. Tapi aku meraskan tangan itu dingin dan kaku. Kakek juga masih
tak membuka matanya. Aku sedikit panik
“kekkk....bangun kekk” aku mulai
mengoyang-goyangkan tubuhnya yang kaku. “Kakek ! kakek bangunnnn” aku terisak
dan menyandarkan kepala di atas dadanya. “kakeekkkkkk” tangisku semakin pecah.
Di ikuti suara petir yang menggelegar dari luar
“aku tak punya siapa siapa lagi kek
jangan tinggalkan aku” ujarku tapi kakek sama sekali tak menjawab bibir nya tertutup rapat dan pucat
Di luar hujan tak lagi terdengar.
Aku bergegas keluar dan berlari menuju perkampungan. Aku harus minta bantuan
untuk menguuburkan jasad kakek. Angin malam berhembus menusuk sukma,
menggetarkan raga dan membuat suasana kian mencekam. Pepohonan yang bergoyang
pun ikut menari terkena semilirnya angin yang dingin seolah-olah berkata bahwa
aku ingin sekali dipeluk dengan kehangatan yang tulus.
Kolaborasi antara gelap, malam,
petir, dingin, angin dan sunyi pun membuat suasana bumi semakin tak
bergravitasi, dunia tak menyapa, jangkrik tak mengkerik, kelelawar tak keluar,
bintang tak gemilang, dan burung hantu enggan menampakkan dirinya di pohon
jambu. Nafasku terasa tersengal tapi Aku harus tetap berlari. Aku memilih jaln
di sebeah barat rumahku, jika lewat
jalan itu aku bisa sampai lebih cepat namun resikonya lebih besar karena aku
harus melewati jurang-jurang dengan lantai yang licin, terlebih pada saat itu
hujan baru saja meyerbu desa kecil ini
Setengah jam aku berlari tidak
terasa tinggal beberapa tanjakan lagi yang harus aku lalui. Aku memijakan
kakiku lebiih kuat tapi brukkkk.... kakiku tersandung. Masyaallah..lututku
berdarah. Perih, sakit aku ingin menangis tapi itu tak mungkin aku lakukan.
Akhirnya aku berjalan pelan
Setibanya di perkampungan. iba-tiba
terdengar suara rintihan dalam balutan doa dari sebuah rumah yang sederhana.
Aku lagsung mengetuk pintu rumah itu
Tokkk...tokk ..tokk
Tidak ada jawaban. Tokk tokk aku mengetuk pintu itu lagi
seraya Aku mengintip ddari sela-sela jendelanya
“Ya Allah… kuatkan hati hamba, semoga bisa melewati semua
cobaan ini”
Suasana kamar itu begitu hening, ditambah redup lampu yang tak begitu terang. Membuat suasana semakin syahdu. Wanita itu segera mengusap pipinya yang basah oleh air mata, pelan-pelan dia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. dan akhirnya
Suasana kamar itu begitu hening, ditambah redup lampu yang tak begitu terang. Membuat suasana semakin syahdu. Wanita itu segera mengusap pipinya yang basah oleh air mata, pelan-pelan dia beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. dan akhirnya
Krakkkkkkk..pintu rumah terbuka.
“adik siapa?” tanya wanita itu
kepadaku seraya menengok kesana kemari seperti mencari seseorang
“saya lee. tolong saya nyonya,
kakek saya harus segera di makamkan” aku memelas
“masya.allah rumahmu dimana?”
Aku menunjuk arah utara yang saat itu adalah hutan.
“di
tengah hutan” tanyanya seraya menekuk lututnya bersipuh di depanku aku mengguk
saja. “masyaallah kau terluka nak” ucapnya lagi ketika menatap lututku yang
berdarah. “maari masuk dulu kita obati lukamu”
“tapi
kakek saya...”
“kitaa
obati dulu baru kita cari bantuan” selanya. Aku mengangguk menyetujui
Hari
mulai beranjak malam Pukul 22.00. kepalaku terasa semakin berat . kantuk
semakin mengamuk. Aku terus mempercepat langkah kakiku badanku terlalu letih
untuk perjalan sejauh ini. Tapi jasad kakek harus segera di makamkan.aku tereus
melangkah dengan orang-orang dari
kampung itu lalu langkahku terhenti di sebuh rumah papan itu. pintunya masih
tertutup rapat seperti awal aku meninggalkanya. Senyap. Tak ada suara kakek
yang biasanya sibuk menyanyikan lagu buatku. Aku di temani bebrapa orang dan
ibu tadi masuk ke dalama kamar. Kakek masih terlihat terbaring di atas tempat
tidur. Diam bergeming. Ibu yang mengobati lukaku memegang pergelangaan tangan
kakek. Lalu menentuh lehernya. “innalilahi wa innailahi roji’un” seru ibu tu.Tiba-tba
keringat dingin keluar . wajahku muali pucat. Pandanganku kabur. Lalu kemudian
aku tak ingat lagi...
Langganan:
Komentar (Atom)