Kamis, 04 September 2014

tekkad

saya bingung sama diri saya, dua hari belakangan ini pikiran terasa kacau, rindu mengeluap ingin bertemu ibu d kampung, ingin duduk di teras depan berbagi cerita kembali, rasanya ingin pulang dan tag ingin disini. ahh tapi itu tidak mungkin saya lakukan. mana mungkin saya pulang dengan tangan hampa?
 saya  ingat bahkan sangat ingat bagaimana mereka melecehkan keluarga kami, memandang sebelah mata karna kemiskinan itu. sebelum keputusan sekolah disini saya ambil, saya sempat mendaftar di salah satu perguruan tinggi islam di kampung saya selang beberapa hari ujian. ada salah seorang yang mengatakan kepada kami "bapak dan ibumu itu orang tidak punya kalau kamu disini mereka tidak akan bisa membantu. mending kamu balik kejakarta biar di bantu kak toni sekolahmu itu"
menurut pembaca apa yang bisa pembaca rasakan? saat kalian berhadapan dengan situasi seperti itu? saat  sebuah nasihat terasa tampaaran keras yang menyakitkan. bukan itu saja beberapa orang juga sempat mengatakan kepada saya "kalalu kamu disini mau jadi apa? selang beberapa tahun kami yakin kamu akan menikah duluan dan putus kuliyah(hamil diluar nikah)"  astaghfirullah apa saya seorang muslim sehina itu sehingga mereka berhak berbicara semacam ini? saya hanya diam berenung panjang, saya tidak mungkin di kampung terus-terusan melihat pribadi saya dan kedua orang tua saya dihina.dan seingat saya dalam sebuah kitab alala di jelaskan bahwa ingin mencari kemulyaan kita harus pergi dari desa jangan terus terusan berdiam berkumpul dengan orang" pengadu domba dan dengki. esoknya saya segera membeli tiket dan kembali ke kota ini. tapi alasan saya kembali bukan untuk disekolahkan. INGAT bukan untuk di sekolahan !! saya akan berusaha sekolah dengan biaya sendiri. saya tidak ingin semakin di rendahkan sama mereka. semua terasa mustahil memang tapi percayalah tuhan tag kan pernah meninggalkan kita. saya akan istikhamah dan juga tirakat. yah hanya itu modal saya saat ini.